08 Mei 2009

Menyoal Pelayanan Darah Transfusi di Sulawesi Utara

Dapatkah Palang Merah Indonesia SULUT menyediakan Darah yang AMAN dan Tepat waktu saat ini?


Catatan Profesi oleh :

Frisky A.S. Tandaju

(Alumnus D1 Parmedis Teknologi Transfusi Darah Jakarta. Angkatan VI tahun 1999 – 2000)


Unit Transfusi Darah Daerah (UTDD) SULUT dibawah naungan Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah SULUT kini sebulan sudah dipimpin oleh dr. Edly Paat, DK sejak serah terima jabatan dengan dr. Franckie R.R. Maramis, PKK. DK. SpKT pada awal April 2009 lalu. Sampai tulisan ini saya buat, masih terus dilakukan perubahan dan pembenahan di dalam UTDD SULUT seperti perubahan fisik gedung, pemindahan ruang pelayanan pasien, laboratorium crossmatching, serta ruang administrasi UTD. Administratifpun tak luput dari perubahan berupa penggantian dan pengangkatan kepala kepala bagian, penambahan pegawai administrasi, sampai pada penetapan peraturan – peraturan baru.

UTDD PMI SULUT resmi mulai beroperasi pada tahun 2003, sejak perubah status dari Unit Transfusi Darah Cabang PMI Manado. Perubahan status ini dirasa perlu oleh karena meningkatnya kebutuhan darah se SULUT. Peningkatan kebutuhan darah ini menuntut PMI Daerah SULUT untuk mengelola public service ini secara professional dalam arti UTDD SULUT sebagai satu satunya Unit transfusi darah Daerah di SULUT harus mampu menyediakan darah yang aman dan tepat waktu bagi public. Adapun beberapa hal penunjang yang wajib dipenuhi yaitu tersedianya fasilitas yang memadai untuk UTDD, cukupnya tenaga kesehatan berupa dokter, paramedis teknologi transfusi darah (PTTD) dan Asisten transfusi darah (ATD), serta penunjang administratif. Hingga hari ini UTDD PMI SULUT memiliki 2 orang dokter, 9 orang PTTD, dan 3 orang ATD. Sayangnya dari sejumlah tenaga kesehatan diatas dibagi dengan : Dari 2 orang dokter 1 orang Kepala UTDD dan 1 orang staf dokter pelayanan donor. Demikian pula dengan 9 orang PTTD yang bertugas aktif hanya 7 orang sedangkan 2 orang lainnya ditugaskan sebagai staf administrasi di kantor PMI Daerah SULUT. Hal yang sama juga berlaku untuk 3 orang ATD, yang bertugas aktif hanya 1 orang sebab 2 orang lainnya menempati posisi struktural. Berarti sekarang tenaga teknis kesehatan di UTDD SULUT adalah 1 orang dokter, 7 orang PTTD dan 1 orang ATD padahal UTDD ini memiliki bagian pengambilan dan perawatan darah, leboratorium uji saring dan komponen darah serta laboratorium crossmatching dan pelayanan pesien yang kesemua bagian tersebut wajib diisi oleh teknisi kesehatan pada 3 shift tugas tiap 24 jam. Bukanlah hal sederhana bagi UTDD SULUT yang merupakan satu satunya UTDD di SULUT untuk melayani kurang lebih 1500 orang pasien perbulan. Muncul pertanyaan Apakah UTDD SULUT dapat melayani secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan darah seSULUT yang meliputi Manado (1 RSU Pusat, 1 RSU Daerah, 7 RS swasta), Bitung (1 RSUD, 3 RS Swasta), Minahasa (2 RSUD, 2 RS swasta), dan Minahasa Selatan (2 RS swasta)?

Seperti apa sebenarnya pekerjaan yang dilakukan di sebuah UTDD? Gambaran singkatnya adalah bahwa Unit Transfusi Darah (UTD) merupakan sebuah Unit yang melayani kebutuhan darah dari pasien di rumah sakit sebab darah sebagai bahan “obat”, dan tanpa transfusi darah, pengobatan perdarahan berat akan sulit dan tidak mungkin. Demikian pula prosedur bedah bisa kurang aman tanpa darah. Darah yang disediakan oleh UTD adalah darah yang aman dari Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, serta kemungkinan Malaria, Types, dan Sifilis. Darah yang ada di UTDD didapat dari perorangan pendonor darah yang sehat secara fisik pada batasan usia 17 sampai 60 tahun. Pendonor darah menyumbangkan darahnya melalui kegiatan donor darah atau datang langsung ke kantor UTD. Darah tersebut kemudian diseleksi di Laboratorium UTD dengan melewati proses uji saring IMLTD, serology golongan darah A-B-O-AB dan Rhesus, serta pemeriksaan lanjutan. Hasil dari proses di atas adalah darah yang kemungkinan memiliki IMLTD (Darah ini kemudian dimusnahkan dengan melalui proses khusus), serta darah yang aman dari IMLTD dengan kepastian hasil serology golongan darah. Darah yang aman ini kemudian diolah menjadi komponen darah lalu kemudian disimpan menjadi stok darah UTD. Setiap pasien yang datang ke UTD mendapat darah dari stok dengan terlebih dahulu dilakukan crossmatcing di Laboratorium pelayanan pasien antara sampel darah pasien dan darah stok hingga aman digunakan untuk transfusi darah.

Tujuan pelayanan transfusi darah adalah memberikan darah dan produk darah yang efektif, seaman mungkin. Dari gambaran singkat tadi dapat diketahui bahwa tersedianya darah aman serta memenuhi standar secara kwalitas dan kwantitas membutuhkan proses dan penangan secara professional karena transfusi darah juga mengandung resiko seperti penularan IMLTD karena uji saring yang buruk dan mal praktek seperti kesalahan distribusi darah berbeda golongan darah akibat crossmatching yang tidak sesuai prosedur. Adapun salah satu kemungkinan terjadi kesalahan juga disebabkan oleh penggunaan bahan pemeriksaan (reagensia) yang tidak memenuhi standar hingga resiko – resiko kesalahan akibat transfusi darah terjadi. Amankah darah yang disediakan oleh UTDD PMI SULUT?

Faktor keaman darah serta pelayanan tepat waktu merupakan kebutuhan public dan adalah tanggung jawab UTD untuk memenuhinya. Proses pelayanan tersedianya darah tepat waktu telah menjadi persoalan klasik di UTDD PMI SULUT dan mungkin juga terjadi di UTD lain, namun dapatkah persoalan ini diselesaikan? Apakah darah yang ada di UTDD SULUT bermutu secara kualitas dan kwantitas dan siap tepat waktu?

Menurut hemat saya professionalisme kinerja dan pelayanan maksimal UTD dapat dicapai dengan penerapan prosedur kerja standar yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi kebutuhan UTD serta pengoptimalan tenaga Teknisi transfusi darah seperti PTTD dan ATD yang ada di UTDD SULUT dan bila perlu dilakukan perampingan karyawan demi penekanan cost UTD. Akan menjadi hal penting bila demi pelayanan maksimal, UTD dikelola secara professional oleh tenaga yang memiliki kompetensi di bidang transfusi darah maka sekiranya mungkin perubahan demi perubahan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan public sebab Unit Transfusi Darah bukan hanya milik PMI Daerah SULUT atau pimpinan dan pegawainya tetapi juga milik public.

Demikian catatan profesi ini saya buat dengan harapan bahwa dikemudian hari dapat tercipta suatu keselarasan hubungan saling membutuhkan antara public service seperti UTDD PMI SULUT dengan public pengguna jasa seperti pasien dan donor darah.

06 April 2009

Foto Desa Pinabetengan 2008

Serba serbi 2008
Foto foto Desa Pinabetengan


Penunggang Kuda "Cakalele" dari Desa Pinabetengan

Ini foto waktu Festival seni budaya 2008

Grup Maengket "Manguni Makasiow" Pinabetengan
Ini foto waktu Festival seni budaya 2008

"Umper"
Sesajian untuk para leluhur sebagai bentuk syukur
ini foto waktu acara syukur HUT Desa Pinabetengan
dan Lomba Menu Tradisional antar jaga

Pemandangan Desa Pinabetengan dari Watu Pinawetengan


Ini Qta dengan Raymon Wowiling, S.Sos
Foto di Waruga tompaso (Kompleks Desa Tonsewer)

01 November 2008

DIARY OKTOBER 2008

Menanti Esok Di Bangsal Rumah Sakit

Dimana ini? Sepertinya bukan dirumah! Tempat ini memang tidak asing tapi dimana ya? Tanyaku dalam hati. Rasa penasaranku hilang setelah seorang suster cantik membangunkan aku untuk mengambil darah. Sebuah suntikan baru di tangannya, yang saya tau pasti itu untuk mengambil darah. “mo ambe darah ne om” suara suster itu membangunkan aku.
Jam 05.00 pagi aku teringat kemarin hari saat aku merasakan sakit luar biasa dalam kepalaku, otot di kepalaku menegang, pembuluh darahku serasa mau pecah keluar dari kulit kepala. Seluruh tubuhku bergetar, merinding menahan panas yang bergejolak di dalam tubuh ini. Jam 14.00 siang aku tak kuat lagi menahan rasa sakit akhirnya aku meminta kepada keluargaku untuk di bawa ke rumah sakit di Tomohon. “Mungkin Om saki malaria” pungkas sang juru rawat di rumah sakit begitu kami sampai dan diperiksa disana. “Kurang mo lia hasil pemeriksaan darah di Laboratorium, lebe bae rawat inap jo dulu” dia mengakhiri pemeriksaannya setelah mengambil thermometer yang menunjukkan angka 41 derajat celcius dari jepitan tanganku.
Satu jam berlalu, masih hari minggu 19 Oktober 2008, resep obat pertama yang di beli sudah hampir menyamai seper empat gaji sebulan saya sebagai staf teknis di Unit Transfusi Darah Daerah Palang Merah Indonesia SULUT. “Gila” pikirku, masih biaya obat sudah sedemikian, bagaimana nanti? Keluargaku juga butuh makan, anakku juga butuh susu, aku juga butuh kesehatan. Biaya hidup di zaman ini disadari memang semakin besar, pantas jika orang miskin berteriak meminta biaya kesehatan gratis, orang juga berteriak meminta pendidikan gratis, bahkan ada yang sampai meminta makanan gratis walau harus menggadaikan idealisme dan moralitas. Eh… kenapa sampai bicara hal – hal yang seperti itu ya. Bukannya tadi sedang bicara pengalaman pertama saya masuk rumah sakit sejak 27 tahun terakhir? Yah ternyata begitulah bahasa masyarakat sekarang ini yang semakin terhimpit persoalan ekonomi yang juga dihadapi Negara.
Hari ini memasuki hari ke dua saya menginap di Rumah Sakit ini namun hingga saat ini saya belum mengetahui penyakit apa yang saya idap. Informasi yang didapat dari suster bahwa besok setelah hasil pemeriksaan Lab keluar, barulah saya akan dievaluasi kesehatan oleh Dokter. Jadi menanti besok mungkin akan lebih lama terasa daripada menjalani hari ini. Akhirnya saya mengerti tentang pamaknaan pepatah “Kalau manis jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan langsung dimuntahkan”.

Frisky Tandaju; RS Bethesda Tomohon; 20 Oktober 2008

RINDU KAMPUNG

Karya : Frisky A.S. Tandaju

Di kampung
Samua orang rupa sudara
Cuma birman kala-kala basudara
Biar nyanda kakak ade
Baku pangge kakak deng ade

Di kampung
Kiri kanan baku tegor
Baku dapa baku hormat
Orang lewat pangge makang
Biar nda kenal pangge ba singga

Di kampung
Helekan sayor baku berbage
Garam deng rica cuma baku minta
Ada kalebean kase pa sudara
Datang kasusaan sudara baku tulung

Di kampung
Skarang so berobah
Sampe sudara lupa sudara
Gara-gara berbage budel
Kakak deng ade baku angka sabel

Di kampung
Orang jaha so lebe banya
Orang lewat ba pajak akang
Ba hormat malam balas deng pemai
Orang nda kenal pukul dulu baru tanya

Di kampung
So nyanda rupa dulu
Gara-gara doi orang lebe gila
Helekan sudara bole orang jual
Apa lagi nyanda sudara

Di kampung
Skarang kasiang kita so rindu
Supaya bole sama deng dulu
Baku malo deng baku hormat
Baku bae deng baku bantu

(For : Pinabetengan desa tercinta)

27 Oktober 2008

EKSPEDISI 1 : WARUGA MAWALE PINABETENGAN

Berawal dari cerita rakyat yang mengungkapkan bahwa terdapat kehidupan manusia purba Minahasa dan adanya informasi masyarakat sekitar tentang keberadaan situs waruga yang berada disebelah barat daya desa Pinabetengan, tepatnya di perkebunan Mawale, diantara desa Pinabetengan dan desa Kanonang.
Kemudian dengan mulai melakukan pencarian data dan fakta yang diperlukan untuk menemukan yang hilang dari Kebudayaan Minahasa. Berlanjut dengan mempertanyakan tentang keberadaan situs tersebut yang ternyata tidak masuk dalam data base situs purbakala di Sulawesi Utara. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs tersebut yang rusak, tidak terawat, dan tidak dilindungi. Artinya bahwa keberadaannya tidak dalam pengawasan pihak terkait. Ironisnya baik masyarakat maupun pihak terkait terkesan tidak peduli dengan keberadaan situs tersebut. Memang benar bahwa peninggalan – peninggalan seperti waruga dan batu bertulis seperti itu kini hanyalah sebuah simbol untuk di kenang oleh masyarakat pada jaman ini namun yang perlu kita renungkan bersama bahwa pada masa lalu, para leluhur tanah MINAHASA telah menciptakan sebuah benda ataupun meninggalkan tanda – tanda yang dapat melintasi zaman untuk di kenang di masa sekarang ini.
Keberadaan waruga – waruga itu merupakan bukti nyata bahwa pernah ada sekelompok orang yang adalah Suku MINAHASA dan tinggal di sekitaran situs. Persoalannya adalah siapakah orang – orang itu. Dari penelusuran kami, ditemukan bahwa dari sisa – sisa waruga di sana tidak memiliki banyak ornament – ornament seperti waruga lain yang ada di tempat lain. Begitu juga dengan motif ukiran pada tutup waruga yang masih berupa ukiran gambar – gambar dan bukan bentuk patung pahatan. Kami menyimpulkan sementara bahwa waruga – waruga tersebut lebih tua dari waruga – waruga yang ada di tempat lain.
Disekitaran tempat dimana waruga – waruga itu berada, kami juga menemukan sebuah batu bertulis yang tulisannya mirip dengan tulisan di Watu Pinawetengan. Apakah Batu itu ada hubungannya dengan Watu Pinawetengan? Hal itu masih dalam penelitian kami. (lihat foto)

PROTOKOL PINAWETENGAN MUDA Gerakan Sadar Kebudayaan

DASAR PEMIKIRAN

Pinawetengan Muda adalah kumpulan Orang muda maupun Orang berjiwa Muda dari Desa Pinabetengan dan Pinabetengan Utara yang membuat Gerakan sadar kebudayaan yang didasarkan pada rasa cinta kepada Tuhan, rasa cinta kepada orang lain, dan rasa cinta kepada para Leluhur. Kenapa Gerakan sadar kebudayaan sebab kebudayaan mencakup secara keseluruhan aspek kehidupan manusia baik pada masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Secara harafiah kebudayaan di definisikan dengan segala hasil cipta, rasa dan karsa manusia baik yang berwujud ideal atau yang di pikirkan maupun material atau yang telah di lakukan/diciptakan manusia.

Rasa cinta kepada Tuhan merujuk pada kesadaran akan manusia yang sejatinya adalah ciptaan Tuhan dan akan kembali kapada Tuhan. Rasa cinta kepada Tuhan juga memberi pengertian akan rasa cinta kepada segala ciptaanNya termasuk mahluk hidup yang lain berupa Hewan, Lingkungan hidup dan alam sekitar.

Rasa cinta kepada orang lain merujuk pada kesadaran akan harkat hidup manusia sebagai mahluk sosial yang tak bisa lepas dari orang lain. Hal ini juga menjelaskan akan penghargaan terhadap manusia lain yang juga memiliki hak – hak asasi, yang menuntut kita memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan orang lain.

Rasa cinta kepada Leluhur merujuk pada kesadaran akan kebereadaan kita saat ini juga tak lepas dari hasil kebudayaan di masa lampau. Hal ini di aplikasikan melalui penghargaan terhadap benda maupun tempat peninggalan Leluhur yang perlu dilestarikan, dan juga ajaran – ajaran yang diwariskan. Penghargaan terhadap warisan leluhur memberi pengertian akan pemaknaan kita terhadap warisan tersebut, yang sesuai dengan masa sekarang ini misalnya berziarah ke Watu Pinawetengan dan ke Waruga dengan tujuan bahwa pada masa lampau pera leluhur telah berhasil menciptakan atau membuat benda yang mampu melewati zaman untuk di kenal dan di jadikan Identitas Bangsa Minahasa pada masa kini. Pemaknaan terhadap contoh diatas juga adalah Identitas orang Minahasa yang kreatif dan intelek, hal itu patut dijadikan contoh bagi orang muda Bangsa Minahasa sekarang ini. Pelestarian akan ajaran – ajaran warisan leluhur contohnya penggunaan bahasa daerah di kehidupan sehari – hari yang disadari bahwa dengan tuntutan perkembangan zaman telah memaksa kita untuk mengetahui bahasa – bahasa yang digunakan oleh masyarakat global, namun penggunaan bahasa daerah sebagai Identitas orang Minahasa tak kalah penting sebab bahasa daerah dengan dialek yang khas menunjukkan pula jati diri.

VISI DAN MISI

VISI :

Mewujudkan Generasi muda Desa Pinabetengan yang memiliki semangat kompetensi dengan kesadaran kebudayaan yang didasarkan pada rasa cinta kepada Tuhan, rasa cinta kepada orang lain, dan rasa cinta kepada para Leluhur demi Terwujudnya Masyarakat yang Mandiri, Sejahtera dan Demokratis.

MISI :

Dalam merealisasikan Visi Pinawetengan Muda menghadapi era globalisasi, otonomisasi, dan demokratisasi, ditetapkan beberapa misi sebagai berikut :

Mewujudkan generasi muda yang mampu berkompetensi sebagai calon pemimpin di masa datang yang memiliki semangat kompetensi dengan kesadaran kebudayaan yang didasarkan pada rasa cinta kepada Tuhan, rasa cinta kepada orang lain, dan rasa cinta kepada para Leluhur.
Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat, jujur, dan berorientasi prestasi dengan berpedoman pada semangat “Mawale” dan budaya "Sitou Timou Tumou Tou".
Memanfaatkan teknologi yang lebih kompetitif dan berwawasan lingkungan.
Mendukung sepenuhnya Visi dan misi Pemerintah kabupaten minahasa.
Menciptakan masyarakat Desa Pinabetengan di masa datang yang memiliki kesamaan pemahaman mengenai Rasa Nasionalisme dan Rasa cinta terhadap Seni dan budaya dan juga Rasa cinta Lingkungan hidup dan elemen-elemen pendukungnya tanpa melanggar kepentingan umum dan atau peraturan yang berlaku yang ditetapkan oleh pemerintah.


TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan :

Tujuan Pinawetengan Muda adalah:
Sebagai wadah kebersamaan Generasi Muda Desa Pinabetengan yang memiliki kesamaan pemahaman mengenai kesadaran budaya yang didasarkan pada rasa cinta kepada Tuhan, rasa cinta kepada orang lain, dan rasa cinta kepada para Leluhur.
Wadah pendidikan minat dan bakat, pengembangan semagat organisasi, Kreatifitas, dan Intelektualitas.
Peningkatan kegiatan – kegiatan generasi muda yang berdimensi Panca Sadar (Sadar Ketuhanan, Sadar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Sadar Seni Budaya, Sadar Lingkungan, Sadar Identitas)
Wadah meningkatkan rasa solidaritas antar generasi muda desa Pinabetengan.
Menunujang seluruh Program Pemerintah Desa Pinabetengan dan Pinabetengan Utara.

Sasaran :

Sasaran gerakan Pinawetengan Muda ini adalah seluruh generasi muda di Desa Pinabetengan dan Pinabetengan Utara.


SIFAT DAN KEANGGOTAAN

Sifat :

Gerakan Pinawetengan Muda adalah organisasi yang bersifat Gerakan sadar Kebudayaan dengan ruang lingkup terbuka untuk semua generasi muda di Desa Pinabetengan dan Pinabetengan Utara.

Keanggotaan :

Anggota gerakan Pinawetengan Muda adalah Perorangan kaum muda Desa Pinabetengan dan Pinabetengan Utara yang ingin memberikan sumbangsih bagi Bangsa dan Negara.

PENUTUP

Sepenuhnya disadari bahwa usaha untuk menyatukan kesamaan paham mengenai kesadaran kebudayaan yang didasarkan pada rasa cinta kepada Tuhan, rasa cinta kepada orang lain, dan rasa cinta kepada para Leluhur tidaklah mudah, karena itu dibutuhkan dukungan dari semua pihak terkait dalam meningkatkan semangat kompetensi generasi muda menghadapi berbagai tantangan masa depan. Tuhan kiranya memberkati usaha dari niat yang tulus membangun tanah Minahasa tercinta ini.
I Jajat U Santi